JAKARTA, (PR).- Kaum perempuan yang tidak bekerja rentan mengalami kekerasan ekonomi. Padahal, apabila angka kekerasan terhadap perempuan menurun, produk domestik bruto Indonesia akan naik.

Hal itu mengemuka dari hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional pada Desember 2016 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kantor BPS, Jakarta, Kamis, 30 Maret 2017. Survei khusus itu dilaksanakan terhadap 9.000 rumah tangga dari sampel 900 blok sensus yang menyebar di semua daerah Indonesia.

Dalam kajiannya, terdapat tiga jenis kekerasan ekonomi yang paling banyak dialami perempuan yang pernah atau sedang menikah selama hidup, yaitu tidak boleh bekerja (19,5%), pasangan menolak memberi uang belanja (5,1%), pasangan mengambil penghasilan/tabungan tanpa persetujuan (3,0%).

Prevalensi kekerasan ekonomi terhadap perempuan yang pernah/sedang menikah tercatat cukup tinggi sebesar 24,5%. Sementara kekerasan fisik, seksual, dan emosional sekitar 28,3%. Prevalensu kekerasan terhadap perempuan yang tidak bekerja lebih tinggi, yaitu 35,1% dibandingkan dengan perempuan yang bekerja sebesar 32,1%.

“Kekerasan ekonomi jauh lebih dominan dibandingkan kekerasan seksual dan fisik. Bentuknya tidak boleh bekerja oleh pasangan dengan cara apapun dan lainnya. Ini menghambat kemajuan perempuan,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto.

Menurut Kecuk, indikator kesejahteraan adalah kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Negara belum dikatakan maju jika perempuan dan anak belum ada diranah aman.
Ketidakadilan Hak Perempuan Kementerian PPA, Vennetia R Danes, mengakui, keterbatasan akses ekonomi terhadap perempuan masih tinggi. Padahal, apabila angka kekerasan dapat direduksi, dia meyakini produk domestik bruto Indonesia akan naik.

“Kekerasan terhadap perempuan merugikan negara, baik ekonomi, kinerja individu perempuan, keluarga, dan kesehatan juga berdampak terhadap negara,” ujarnya.

Dia memandang, faktor kemiskinan perlu diatasi dengan pemberdayaan perempuan agar menghasilkan buat keluarga sehingga tidak bergantung kepada suami. Perempuan yang bekerja dan mengalami kekerasan pun akan turun etos kerjanya.

“Mereka akan tidak sering ke tempat kerja karena sakit. Kalau di tempat kerja, cuti hamil tidak diberikan, ruang menyusui tidak disediakan. Hal-hal itu mengurangi etos kerja dan dianggap malas sehinhga ada potong gaji dll,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, hal tersebut memberikan gambaran betapa besar kerugian akibat kekerasan terhadap perempuan. Bahkan, kekerasan di negara berkembang lebih tinggi dibandingkan dengan sedang berkembang.***

Sumber : PR

Artikel Terkait

BAHAYA! Inilah Kumpulan Video Hashtag Skip Challenge yang Sedang Viral Tentang bahaya Skip Challenge silakan lihat videonya di bawah ini. https://www.youtube.com/watch?v=FO8czTG8INQ&rel=0 Media sosial selalu dihebohkan oleh tantangan atau challenge terbaru yang diikuti oleh para remaja, yang...
10 Alasan dan Kelebihan Ayah yang Terlibat dalam Pengasuhan Apakah laki-laki yang terlibat dalam pengasuhan akan membuat harga dirinya sebagai laki-laki runtuh? Jawabnya tentu tidak. Justru laki-laki yang demikian akan dikenal sebagai Ayah yang hebat karena menjadi Ayah yang berta...
Waspada, Ini 5 Tanda Pedofilia Pelecehan seksual kerapkali menimpa anak-anak. Parahnya sebanyak 90 persen pelaku kejahatan seks adalah orang terdekat atau kenal dengan korban dan keluarga Anda. Oleh sebab itu, ini 5 tanda pedofilia yang perlu dikenali agar...
Perempuan Berdaya Secara Mandiri Walikota Bandung, Ridwan Kamil memberikan apresiasi kepada para perempuan yang saat ini mulai mampu menunjukkan kapabilitas untuk terlibat dalam pembangunan negara. Menurut Walikota, jumlah perempuan dan anak di Indonesia ...
7 Tanda Si Pacar Melakukan Kekerasan Kekerasan identik dengan pemukulan, penamparan dan sebagainya yang berhubungan dengan fisik. Kekerasan tidak selamanya berhubungan dengan fisik, namun kekeran juga bisa berhubungan dengan emosi bahkan ekonomi. Sudah banyak ya...

Leave a Reply

Your email address will not be published.