Infografis: Fakta Seputar Tembakau Gorila

Sumber: Sudrajat – detikNews

Artikel Terkait

Cara Ajari Anak Jauhkan dari Sentuhan Pelecehan Foto: Ilustrasi Anak-anak sering menjadi korban pelecehan seksual. Entah itu perempuan atau lelaki. Alhasil, peran orangtua saat ini lebih menantang dengan meningkatnya kejahatan sosial di lingkungan kita. Mendidik anak...
Langkah Pertama Cegah Pedofil, Kenali Teman Anak Anda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meminta para orang tua mengenali teman sepermainan anak demi mencegah para pedofil menyerang anak. "Orang tua harus mengenali teman sepermainan anak-anak kita dan juga harus memberi ta...
Anak Tak Lagi Mencandu Gadget Bila Bunda Ajarkan Ini Awas, Gadget Sebabkan Mata Kering pada Anak Gadget atau gawai memang sudah menjadi benda yang tidak dapat disingkirkan dari tangan si kecil. Terlebih, segala hal yang mereka sukai saat ini bisa diakses dengan mudah melalui...
Kekerasan dalam Pacaran Fenomena Sunyi di Indonesia Renata, seorang mahasiswi, sudah memahami polanya. Jika sahabatnya Alia memakai kacamata hitam di dalam ruangan, atau jika ia tidak seperti biasanya memakai blus lengan panjang bukannya kaos singlet, atau jika ia menghindar b...
Di Surabaya, Menteri Yohana Kampanyekan Three Ends Menteri PPPA Yohana Yembise kampanye Three Ends di Surabaya, Minggu (27/8). Foto: Mesya Mohammad/JPNN.com Kunjungan kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise di Surabaya jadi ajan...

One Comment

  • muherman harun

    TEMBAKAU GORILLA
    Menteri Kesehatan ibu menyatakan tembakau Gorilla adiktif. Ibu menteri juga tahu, bahwa semua rokok itu adiktif.
    Ibu menteri juga tahu, bahwa rokok itu adiktif karena mengandung nikotin. Nikotin adiktif sama seperti ganja, morfin dan kokain.
    Industri rokok bisa menambah kadar nikotinnya (agar rasa lebih ‘nikmat’, lebih mengikat dan memikat). Tapi industri tak bakalan bikin rokok bebas nikotin. Mengapa? Rokok bebas nikotin tak akan ada rasa nikmatnya. Tidak akan ada pembelinya. Siapa mau hisap rokok yang bau, kotor, berbahaya lagi dan tanpa merasakan nikmatnya nikotin. Sekalipun kadar nikoin rendah skali “How low can you go?” atau rokok ‘MILD”, tetap ada nikotin yang terrasa nikmat dan mengakibatkan kecanduan.
    Karena kecanduan, orang akan merokok terus, terekspos tiga macam bahan bahaya dalam asap rokok. Bahan pertama terdiri atas tar, yang memberi rasa gurih tapi juga penyebab kanker paru, mulut, kerongkongan dll organ tubuh. Nahan kedua menganding karbonmonoksid yang mengakibatkan darah kekurangan oksigen, penyebab stroke dan serangan jantung dan akhirnya bahan ketiga nikotin yang memengaruhi sirkulasi darah di otak, jantung dan ekstremitas. Di samping itu asap rokok bisa mencetuskan terjadinya asma yang lama-kelamaan, bisa menyebabkan emfisema, gelembung-gelembung paru yang kecil (alveolus) menyatu menjadi gelembung yang besar dan akhirnya paru menjadi melar atau molor, namanya emfisema paru.
    Perokok yang ‘baik’ dan ‘bertanggungjawab’ menjauhkan diri dari rumah, agar keluarganya terhindar dari asap rokok. Tetapi bagaimana nasib anak dan istrinya kalau perokok sendiri jatuh sakit serius, apalagi fatal? Peringatan: “Merokok membunuhmu!“ bukan main-main. Istri jadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim.
    Dokter hanya bisa memberi penanganan simptomatis. Ia mengobati gejala-gejala, tapi tak mampu menyembuhkan kankernya. Sebab operasi paru, khemo- dan radio terapi sering menyebabkan penderitaan bertambah, malah lebih daripada penyakitnya sendiri. Akhirnya ia dirawat di rumah sakit, diisolasi ke ruang ICU, lehernya dibolongi untuk ‘memudahkan pengeluaran dahak’. Tak lama kemudian, ia meninggal dalam keadaan menderita mungkin hanya ada perawat atau dokter yang ia tak kenal.
    Para pasien kanker yang sudah berpenyakit amat berat janganlah dipaksa untuk perawatan di rumah sakit. Biarlah mereka memilh untuk meninggal di rumah dengan tenang dan damai, dikelilingi keluarga tercinta dan sahabat terdekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.