Pelecehan seksual kerapkali menimpa anak-anak. Parahnya sebanyak 90 persen pelaku kejahatan seks adalah orang terdekat atau kenal dengan korban dan keluarga Anda. Oleh sebab itu, ini 5 tanda pedofilia yang perlu dikenali agar anak tak menjadi korban:

1. Mengidentifikasi calon korban
Sekilas predator seks tak jauh berbeda dengan orang pada umumnya, baik dari fisik atau identitasnya. Akan tetapi, mereka para predator seks umumnya memiliki satu kesamaan dalam mengidentifikasi calon korban yaitu dengan mencari anak kecil yang dianggap paling rentan. Apa yang dimaksud? Maksudnya adalah anak yang berasal dari keluarga yang rapuh, kedua orangtua sibuk bertengkar atau berpisah, dan kurang atau tidak diawasi orangtua atau orang dewasa yang menjadi kerabat dekat saat anak beraktivitas sehari-hari.

2. Mengumpulkan informasi
Salah satu tanda pedofilia adalah setelah menetapkan siapa korbannya, maka pelaku akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai anak tersebut. Pengumpulan informasi ini dilakukan tersamar melalui obrolan kasual dengan anak, orangtua, atau pengasuh anak. Atau, mereka memata-matai aktivitas calon korban. Semua ini dilakukan untuk mencari cara dan kesempatan menjebak anak ke dalam perangkapnya.

3. Memenuhi kemauan atau kebutuhan calon korban
Saat predator seks tersebut sudah mendapatkan banyak informasi mengenai target, maka ia akan mendekati anak atau kelurga terdekatnya. Umumnya ia akan bersikap murah hati dengan sering memberikan hadiah atau memberikan kebutuhan anak dan keluarga tersebut. Misalnya, jika calon korban berasal dari keluarga miskin, si pelaku akan membelikan baju, makanan, dan barang-barang lain yang dibutuhkan. Atau, jika anak terlihat kesepian, pelaku akan berperan sebagai teman yang baik.

4. Mengurangi hambatan
Pelaku kriminal yang menjadi paedofil kemudian akan mulai melancarkan taktik untuk bisa menyentuh anak dengan cara mengurangi penolakan anak melakukan hubungan seksual. Caranya bermacam-macam, misalnya dengan mengajak anak bermain video game berbau pornografi, menciptakan permainan dengan hukuman buka baju, atau memperlihatkan gambar-gambar porno kepada anak.

5. Mulai melecehkan
Inilah tahap yang sangat menyeramkan, yaitu predator seks mulai menyentuh dan melecehkan anak. Bahkan mereka tak segan-segan untuk membunuh target.

Predator seks umumnya memilih keluarga yang tertekan. “Mereka akan memilih seseorang yang lemah secara ekonomi, atau kedua orangtua bekerja, atau anak dibesarkan oleh ibu tunggal,” ujar Dr Phil.

Dr Phil menyarankan agar Mama dan Papa jangan mudah percaya dengan seseorang yang tahu terlalu banyak tentang anak-anak Anda, bahkan lebih dekat dengan anak dibanding Anda sebagai orangtuanya. “Tidak seharusnya seorang anak kecil menganggap orang lain lebih baik dari orangtuanya. Jadikan ini sebagai wawasan dan bahan untuk mengoreksi diri Anda demi menjauhkan anak dari predator seksual,” kata Dr Phil.

Sumber: Tabloid-Nakita.com

Artikel Terkait

9 Cara Agar Anak Lebih Terbuka pada Orangtua Orangtua Menginginkan Agar Anak Berani bicara dan Terbuka, 9 Cara Agar Anak Lebih Terbuka pada Orangtua Orangtua pasti menginginkan agar anak bisa tumbuh menjadi anak yang aktif, ceria, berani bicara, dan terbuka pada oran...
Netty Sangat Prihatin Atas Kasus Prostitusi Anak BANDUNG-Kasus ini memang sudah menjadi perhatian yang sangat kuat dari bareskim polri sehingga langsung ditangani oleh bareskrim dan KPAI. Menurut informasi yang  didapatkan, anak-anak yang menjadi korban ditangani di RPSA...
Forum Anak Daerah Provinsi Jawa Barat Forum Anak Jawa Barat merupakan wadah partisipasi dan penampung aspirasi anak-anak di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat di bawah naungan BP3AKB (Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana) Provinsi...
Cara Menjadi Orang Tua yang Sukses Mendidik Anak 1. Jadilah konsisten 2. Tetapkan batasan 3. Jangan memaksa anak menjadi seperti diri Anda 4. Mendorong perilaku positif pada anak 5. Memberikan sedikit hukuman terhadap kesalahan anak 6. Jangan timbulkan kesenjangan an...
Ini Cara agar Remaja Tidak Salah Berteman Mempunyai anak usia remaja terkadang memunculkan dilema tersendiri. Semakin kompleksnya hubungan pertemanan saat remaja, terkadang membuat orang tua harus berpikir keras bagaimana harus bertindak. Sejumlah studi telah menu...

Leave a Reply

Your email address will not be published.