Infografis: Fakta Seputar Tembakau Gorila

Sumber: Sudrajat – detikNews

Artikel Terkait

Jabar, Provinsi Terbaik di Indonesia’s Attractiveness Award 2016 Provinsi Jawa Barat kembali menerima penghargaan nasional. Kali ini Jawa Barat dinobatkan sebagai salah satu Provinsi Terbaik dalam Indonesia’s Attractiveness Award 2016: Bidang Investasi, Infrastruktur, Pariwisata, dan Layan...
Gubernur Usulkan Pembentukan dan Susunan OPD Baru ke DPRD Jabar Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyampaikan nota pengantar Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah dalam Rapat Paripurna DPRD Jawa Barat di Gedung DPRD Jabar, Jl. Diponegoro No. 27, K...
Aher: Saya Bangga dan Berterimakasih kepada Warga Jawa Barat BANDUNG-Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengapresiasi, sekaligus berterima kasih kepada seluruh warga Jawa Barat atas antusiasme dalam menyemarakkan Gedung Sate Festival, bertajuk 'Semarak Pesta Rakyat,' dal...
Menteri PPPA: Skip Challenge Bukan Permainan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengimbau agar aksi Skip Challange tidak dianggap sebuah permainan, tantangan, dan sensasi yang menyenangkan sehingga mengikuti dan menyebarkannya di media s...
Keenam Kalinya Pemprov Jabar Raih Opini WTP dari BPK RI Bandung - Pemprov Jawa Barat kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerahnya (LKPD). Ini merupakan opini WTP keenam yang diraih berturut.Sebel...

One Comment

  • muherman harun

    TEMBAKAU GORILLA
    Menteri Kesehatan ibu menyatakan tembakau Gorilla adiktif. Ibu menteri juga tahu, bahwa semua rokok itu adiktif.
    Ibu menteri juga tahu, bahwa rokok itu adiktif karena mengandung nikotin. Nikotin adiktif sama seperti ganja, morfin dan kokain.
    Industri rokok bisa menambah kadar nikotinnya (agar rasa lebih ‘nikmat’, lebih mengikat dan memikat). Tapi industri tak bakalan bikin rokok bebas nikotin. Mengapa? Rokok bebas nikotin tak akan ada rasa nikmatnya. Tidak akan ada pembelinya. Siapa mau hisap rokok yang bau, kotor, berbahaya lagi dan tanpa merasakan nikmatnya nikotin. Sekalipun kadar nikoin rendah skali “How low can you go?” atau rokok ‘MILD”, tetap ada nikotin yang terrasa nikmat dan mengakibatkan kecanduan.
    Karena kecanduan, orang akan merokok terus, terekspos tiga macam bahan bahaya dalam asap rokok. Bahan pertama terdiri atas tar, yang memberi rasa gurih tapi juga penyebab kanker paru, mulut, kerongkongan dll organ tubuh. Nahan kedua menganding karbonmonoksid yang mengakibatkan darah kekurangan oksigen, penyebab stroke dan serangan jantung dan akhirnya bahan ketiga nikotin yang memengaruhi sirkulasi darah di otak, jantung dan ekstremitas. Di samping itu asap rokok bisa mencetuskan terjadinya asma yang lama-kelamaan, bisa menyebabkan emfisema, gelembung-gelembung paru yang kecil (alveolus) menyatu menjadi gelembung yang besar dan akhirnya paru menjadi melar atau molor, namanya emfisema paru.
    Perokok yang ‘baik’ dan ‘bertanggungjawab’ menjauhkan diri dari rumah, agar keluarganya terhindar dari asap rokok. Tetapi bagaimana nasib anak dan istrinya kalau perokok sendiri jatuh sakit serius, apalagi fatal? Peringatan: “Merokok membunuhmu!“ bukan main-main. Istri jadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim.
    Dokter hanya bisa memberi penanganan simptomatis. Ia mengobati gejala-gejala, tapi tak mampu menyembuhkan kankernya. Sebab operasi paru, khemo- dan radio terapi sering menyebabkan penderitaan bertambah, malah lebih daripada penyakitnya sendiri. Akhirnya ia dirawat di rumah sakit, diisolasi ke ruang ICU, lehernya dibolongi untuk ‘memudahkan pengeluaran dahak’. Tak lama kemudian, ia meninggal dalam keadaan menderita mungkin hanya ada perawat atau dokter yang ia tak kenal.
    Para pasien kanker yang sudah berpenyakit amat berat janganlah dipaksa untuk perawatan di rumah sakit. Biarlah mereka memilh untuk meninggal di rumah dengan tenang dan damai, dikelilingi keluarga tercinta dan sahabat terdekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.