NGABASO

Ngabaso (Ngabring Ka Sakola) merupakan salah satu program juara yang diinisiasi oleh Gubernur Jawa Barat, Dr. H. Mochamad Ridwan Kamil, S.T., M.U.D., bersama wakil Gubernur Jawa Barat, H. Uu Ruzhanul Ulum, S.E., yang tertuang dalam RPJMD Pemerintah Provinsi Jawa Barat sesuai dengan misi kedua Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu “Melahirkan Manusia Yang Berbudaya, Berkualitas, Bahagia dan Produktif Melalui Peningkatan Pelayanan Publik Yang Inovatif.

Program Ngabaso merupakan gerakan berjalan kaki ke dan dari sekolah secara berkelompok membangun relasi sosial agar tercipta rasa aman dan selamat bagi anak saat ke dan dari sekolah untuk mewujudkan Anak Juara. Program ini bertujuan untuk mewujudkan Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Layak Anak (Provila) di tahun 2023 melalui pemenuhan indikator Rute Aman dan Selamat menuju Sekolah (RASS) dan Sekolah Ramah Anak (SRA). Diresmikan pada 22 November 2018 bertempat di Mason Pine Hotel, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat dan 400 orang tamu undangan.

Ketika pandemi terjadi pada tahun 2020, Program Ngabring Ka Sakola belum bisa dilaksanakan kembali karena adanya kebijakan PPKM yang mengakibatkan siswa harus bersekolah dan berkegiatan di rumah. Sebagai gantinya, Program Ngabring Ka Sakolah disesuaikan menjadi Ngabaturan Barudak Sakola Online (Ngabaso) yaitu menemani anak dalam belajar atau sekolah melalui gawai sehingga anak tetap aman dalam sekolah online

Program Ngabaso menargetkan jumlah lintasan yang dilalui siswa ke dan dari sekolah dengan melaksanakan pilot project di beberapa sekolah di 4 (empat) Kabupaten/Kota di Jawa Barat yaitu Kota Bandung, Kota Bogor, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Cirebon.             Outcome yang diharapkan dengan hadirnya Program Juara ini pada jangka pendek adalah meningkatnya ketersediaan rute aman (infrastruktur/sarana prasarana) Ramah Anak menuju sekolah dan meningkatnya jumlah Sekolah Ramah Anak. Pada jangka menengah yaitu terwujudnya 27 Kabupaten/Kota Layak Anak menjadi Provinsi Layak Anak (PROVILA). Lalu pada jangka panjang yaitu terpenuhinya hak anak Jawa Barat menjadi Anak Juara.

Program Ngabaso dilaksanakan setiap hari Selasa dan Jumat dimana siswa berkumpul pada titik kumpul yang telah ditentukan dengan jarak kurang lebih 200 meter dari sekolah siswa. Di setiap titik kumpul terdapat guru piket maupun relawan yang bertugas untuk membantu siswa menuju ke dan dari sekolah.

Sejak diluncurkannya program Ngabaso di tahun 2018, kecelakaan yang menimpa siswa ketika berangkat dan pulang sekolah cenderung menurun dan keamanan siswa akan akses ke dan dari sekolah juga meningkat.

Sampai dengan tahun 2020 terdapat 5.744 Sekolah Ramah Anak dari 38.575 sekolah yang ada di Jawa Barat sesuai dengan data referensi  Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2020. Dilihat dari data tersebut menunjukkan bahwa 15% dari jumlah sekolah yang ada di Jawa Barat sudah mendapat gelar sebagai Sekolah Ramah Anak dan NGABASO ini adalah sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas sekolah, baik yang sudah mendapat gelar SRA maupun bagi sekolah yang belum mendapat gelar SRA untuk tetap menjamin keselamatan anak-anak.

Menjadi pejalan kaki memiliki berbagai manfaat bagi orang dewasa maupun anak. Dengan berjalan kaki badan menjadi lebih sehat, menurunkan risiko obesitas, mendapatkan udara segar, mengasah kemandirian dan kemampuan bersosialisasi. Bagi

anak yang berjalan kaki menuju sekolah, manfaat yang dapat dirasakan adalah anak lebih mampu memusatkan perhatian pada pelajaran. Jalan kaki merupakan salah satu moda transportasi  yang banyak digunakan oleh anak-anak sekolah, selain diantar jemput menggunakan kendaraan roda dua dan angkutan umum. Ada banyak manfaat dari aktivitas berjalan kaki bersama-sama ke sekolah, antara lain:

  1. Bagi anak, jalan kaki bisa meningkatkan kemampuan dan konsentrasi belajar. Anak anak yang jalan kaki cenderung lebih siap belajar karena sudah “pemanasan”sebelumnya.
  2. Jalan kaki menstimulasi anak untuk lebih mandiri dan mampu mengambil keputusan sendiri. Mereka bisa memutuskan untuk berhenti sejenak dan mengamati sesuatu, berjalan lebih lambat, atau mempercepat langkah
  3.  Jalan kaki bersama teman sangat menyenangkan. Inilah kesempatan bagi anak, guru dan orang tua untuk saling mengenal. Jalan kaki bersama teman, guru dan/atau orang tua efektif untuk menguatkan keeratan hubungan di antara mereka.
  4. Melatih kepekaan anak terhadap lingkungan sekitarnya. Kecepatan jalan kaki anak tentu relatif lambat. Inilah kesempatan bagi anak (juga guru dan orang tua) untuk mengenali wilayah mereka dengan lebih baik.
  5. Latihan kepemimpinan. Guru atau orang tua sebagai pendamping bisa meminta anak untuk menentukan rute alternatif, atau bermain peran dengan menuntun adik kelas yang lebih muda.
  6. Menstimulasi kreativitas dan imajinasi.
  7. Anak yang diantar orang dewasa berkesempatan melihat bagaimana perilaku orang dewasa di jalan, ketika menyeberang, ketika bertemu kenalan, ketika mendahului pejalan kaki yang lain. Anak yang biasa berjalan dengan perilaku baik akan menjadi pengendara kendaraan bermotor yang juga baik, karena empati kepada pejalan kaki telah terbangun sejak dini.