Hero section image background

NGOPI SAHABAT Edisi 8 "Goes to School": DP3AKB Jabar Ajak Remaja Kenali Sinyal Tubuh, Kelola Emosi, dan Kembangkan Potensi

Selasa, 20 Oktober 2026

liputan kegiatan

1

Postingan ini dilihat

0

Postingan ini dibagikan

Poster post NGOPI SAHABAT Edisi 8 "Goes to School": DP3AKB Jabar Ajak Remaja Kenali Sinyal Tubuh, Kelola Emosi, dan Kembangkan Potensi

Bandung, 9 Oktober 2026 – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat melalui Bidang Pemenuhan Hak Anak (PHA) menggelar NGOPI SAHABAT (Ngobrol Pagi Seputar Hak Anak Hebat) Edisi 8 pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan bertema "It's Okay Not to Be Okay: Kelola Emosi, Kembangkan Potensi" ini berlangsung di SMAN 29 Pancawaluya, Jalan Dr. Rajiman, Kota Bandung.

Kegiatan digelar secara hybrid, luring di lokasi dan daring melalui Zoom Meeting serta siaran langsung YouTube DP3AKB Jabar dan TIKomDik Disdik Jabar. Total partisipan mencapai 1.250 orang, terdiri atas 250 peserta luring dan 1.000 peserta daring. Menurut Kepala DP3AKB Jabar, peserta daring berasal dari hampir 900 sekolah di Jawa Barat. Pesertanya meliputi:

  1. Seluruh siswa-siswi SMAN 29 Pancawaluya;
  2. Siswa-siswi SMA/SMK se-Jawa Barat;
  3. Perwakilan perangkat daerah di lingkup Provinsi Jawa Barat;
  4. Perwakilan dinas yang menangani urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak kabupaten/kota se-Jawa Barat;
  5. Mitra DP3AKB Provinsi Jawa Barat.

Sambutan dan Pembukaan

Acara dipandu MC dan diawali sambutan Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. Firman Oktora, S.Si., M.Pd., M.Kom., yang mewakili Kepala Disdik Jabar. Ia menyambut baik kegiatan ini karena temanya sejalan dengan penguatan pendidikan karakter Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer) yang sedang dicanangkan di Jawa Barat. Menurutnya, sehat jiwa dan raga, termasuk sehat mental, menjadi bagian penting dari karakter tersebut. Ia berharap kolaborasi Disdik dan DP3AKB berdampak pada kualitas belajar siswa dan mencetak lulusan yang unggul.

Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala DP3AKB Provinsi Jawa Barat, dr. Siska Gerfianti, Sp.DLP., M.H.Kes. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa NGOPI SAHABAT yang kali ini sudah memasuki edisi ke-8 memanfaatkan teknologi agar pesan sampai ke sekolah-sekolah di seluruh Jawa Barat. Ia mengajak siswa mencintai diri sendiri (self love), menumbuhkan pola pikir dan perasaan positif, tidak merendahkan orang lain, serta berani melapor bila menjumpai perundungan atau pelanggaran aturan. Dalam sesi interaktif, lima siswa SMAN 29 Pancawaluya diajak menjelaskan penerapan nilai Panca Waluya dalam keseharian mereka.

"Setiap hari itu pilihan kita untuk merasa oke atau tidak oke, tapi Bunda sarankan selalu merasa oke."
— dr. Siska Gerfianti, Kepala DP3AKB Provinsi Jawa Barat

Mengenali Sinyal Tubuh dan Tekanan Emosional

Sesi materi dipandu moderator Dewi Fitriani dari Bidang PHA DP3AKB Jabar. Narasumber, Prita Pratiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, adalah psikolog yang berfokus pada anak dan remaja, khususnya hambatan belajar, penanganan masalah emosi, dan kesehatan mental dengan pendekatan holistik.

Melalui peragaan bersama seorang siswa, ia menunjukkan bahwa tubuh memberi sinyal ketika seseorang berpikir atau merasakan hal yang tidak selaras dengan kondisi dirinya. Ia menjelaskan bahwa postur tubuh, proses biokimia tubuh (seperti hormon), dan kondisi psikologis saling berkaitan, sehingga ketidakseimbangan di satu aspek memengaruhi aspek lainnya.

Peserta diajak mengenali tanda-tanda tekanan emosional, seperti mudah marah, cemas, sulit tidur, overthinking, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, sakit kepala, hingga keluhan kulit. Sinyal ini sebaiknya segera diatasi dan tidak diabaikan. Ia juga menjelaskan bahwa pada remaja, bagian otak yang aktif saat ada pemicu stres (amigdala) dapat membuat seseorang sulit berpikir jernih saat tertekan.

Evaluasi Diri Objektif dan Strategi Pengembangan Potensi

Prita menekankan pentingnya mengenali sumber stres dan mengevaluasi diri secara objektif. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, pikiran negatif, dan tuntutan berlebihan pada diri sendiri dapat menguras energi dan menghambat potensi. Dengan analogi gedung bertingkat dan lari jarak jauh, ia menjelaskan bahwa target yang jelas membantu seseorang menyiapkan strategi dan kesiapan mental. Ia mendorong peserta untuk:

  1. Mengatur napas dengan menaruh satu tangan di dada dan satu di perut, lalu bernapas hingga perut ikut bergerak;
  2. Menuliskan kelebihan dan kekurangan diri sebagai data untuk menentukan langkah perbaikan;
  3. Berdiskusi dengan orang lain untuk evaluasi yang lebih objektif;
  4. Mengenali pola diri, misalnya waktu paling produktif untuk belajar.

Peserta juga mempraktikkan gerakan sederhana "Switch On" selama sekitar tiga menit untuk membantu keseimbangan tubuh dan otak, serta pijat telinga untuk meredakan pegal dan ketegangan.

Diskusi dan Tanya Jawab Interaktif

Siswa luring dan daring mengajukan pertanyaan seputar nilai dan evaluasi diri, rasa tidak percaya diri, overthinking, pengendalian emosi, kesulitan bersosialisasi, hingga penggunaan AI sebagai teman bercerita. Beberapa poin dari narasumber:

  • Evaluasi hasil belajar. Nilai atau peringkat perlu dibaca untuk mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Ini bukan berarti mengabaikan apresiasi atas pencapaian.
  • Mengatasi overthinking. Tuliskan semua isi pikiran, lalu salurkan emosi dengan cara sehat dan tidak mengganggu orang lain, misalnya berteriak ke bantal, bernyanyi, menangis, berjalan cepat, atau berolahraga.
  • Mengelola stres. Temukan dulu sumbernya dan ceritakan pada orang yang tepat. Teman tidak harus memberi solusi, cukup mendengarkan dan menemani.
  • Mengenali potensi diri. Menyebutkan kelebihan bukan berarti sombong selama didukung data objektif.
  • Penggunaan AI. AI bermanfaat untuk menantang dan menguji pemikiran, tetapi berisiko bila hanya dilatih untuk membenarkan semua yang diharapkan pengguna.
  • Kapan perlu bantuan profesional. Jika overthinking sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, segera temui psikolog.
  • Mengendalikan emosi. Kenali pemicunya, misalnya lapar atau perubahan hormon, dan jaga pola makan serta aktivitas fisik.
  • Bersosialisasi. Perluas wawasan agar nyambung dengan teman, dan biasakan makan bersama keluarga secara rutin untuk membangun komunikasi.

"Emosi yang terkelola bukan berarti tidak boleh marah, kecewa, atau khawatir, tetapi tahu bagaimana cara menyalurkannya."
— Prita Pratiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Penutup

Kegiatan ditutup dengan pesan penutup dari Kepala Bidang PHA DP3AKB Jabar serta kesan dan pesan perwakilan siswa SMAN 29 Pancawaluya. Mereka menilai materi dan tips yang disampaikan bermanfaat serta relevan dengan keseharian remaja.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu mengenali emosi dan kebutuhan dirinya dengan lebih baik, mengembangkan potensi secara optimal, dan menerapkan pengelolaan emosi yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. NGOPI SAHABAT Edisi 8 menjadi salah satu upaya DP3AKB Provinsi Jawa Barat meningkatkan pemahaman remaja tentang pentingnya kesehatan mental sebagai bagian dari pemenuhan hak anak dan dukungan terhadap tumbuh kembang yang optimal.

Penulis: Humas